Etika Mempengaruhi Kelompok
Juni 5, 2008
Menurut Garner dalam bukunya yang berjudul ”Five Minds for the future”, kecerdasan digolongkan dalam 5 Kelompok seperti berikut ini:
1. Disiplin Mind
Seseorang yang didalam pikirannya mempunyai satu disiplin sendiri atau pola atau pattern dalam melakukan suatu tindakan.
2. Sintesisin Mind
Orang yang menggabungkan berberapa disiplin ilmu (bidang profesi)(ide-ide) dan membentuk suatu kreasi baru dan menjadi kesatuan yang utuh dan mengkomunikasikannya kepada orang lain misalnya orang yang menggabungkan Ilmu ekonomi dan ilmu hukum.
3. Creative Mind
Orang yang memiliki kemampuan untuk menyingkapkan, memperjelas masalah-masalah, pertanyaan dan fenomena baru.
Pikiran kreatif sering dimiliki oleh sebuah proses yang panjang. yang seringkali dihasilkan oleh indivisu-individu yang selalu mempertanyaan kemandekan , mencari pemecahaan cara baru, mendobrak dan membongkar tatanan lama. Mencari phenomena baru. Yang kadang nampak kurang waras bagi sebuah masyarakat dengan tatatan berpikir mapan. Mempertanyakan memang merupakan sebuah proses menuju sebuah pembentukan benih-benih kreatifitas.
4. Respectful Mind
Orang yang memiliki kesadaran dan kemampuan menghargai perbedaan diantara sesama umat manusia dan kelompok. Menghargai keberagamam pikiran. menghargai keberagaman ide-ide. Menerima kemungkinan orang lan untuk salah.
5. Ethical Mind
Yakni orang yang mampu memenuhi suatu tanggung jawab sebagai pekerja dan warga negara. Menurut Garner kecerdasaan ini kecerdasaan yang paling tinggi. Untuk bisa mempunyai ethical mind orang itu harus cerdas sekali, yaitu bisa melihat kebutuhan diluar dirinya. Menghargai orang lain dan tidak menerobos demi kepentingan diri sendiri.
Pikiran yang memiliki Etika ( Ethical Mind ) adalah pikiran yang paling menentukan gerak kebudayaan. Di sinilah akan di uji sejauh mana hasil proses disiplin yang bisa melakukan sintesa dan membangkitkan proses kreatif dapat menghargai orang lain, menghargai masyarakat dengan didasari oleh pikiran yang beretika.
Etika yang dibicarakan disini adalah etik autonom yaitu sebuah nilai Etik yang bersumber dari dalam individu itu sendiri.
Dari klasifikasi yang dibuat Garner, dapat disimpulkan bahwa seseorang akan dikatakan cerdas jika mempunyai etika. Jika kita sudah berpendidikan dan menguasai banyak ilmu pengetahuan tapi tanpa memiliki etika dalam menerapkan ilmu dan pengetahuan yang kita miliki maka hal ini tidak akan menyepurhahkan keberhasilan yang kita lakukan.
Ada beberapa hal yang menyebabkan orang melanggar etika, diantaranya yaitu keinginan untuk memenangkan kompetisi dengan sangat berlebihan tanpa memerhatikan akan menyinggung orang lain atau sampai melanggar norma-norma yang ada di masyarakat. Misalnya seorang supir taxi dalam usahnya mencari pendapatan dan mencapai target, memperlakukan penumpang dengan semena-mena. Seperti menghalalkan berbagai cara tanpa memperhatikan kenyamanan dan kesopanan. Karena menerapkan cara-cara mencari penumpang dengan memaksa atau memberikan harga yang tidak sepantasnya. Hal ini tentu akan bahkan menimbulkan ketakutan bagi penumpang. Mengakibatkan para penumpang takut dan tidak akan pernah mau menaiki taxi tersebut. Jika diteliti lebih jauh perilaku yang tidak menggunakan etika ini menimbulkan berdampak buruk bagi si supir taxsi itu sendiri. Karena kalau penumpang itu sudah takut untuk menaiki taxinya maka otomatis tujuan utama yang ingin dicapai oleh supir taxi seperti mencapai target dan memperoleh pendapatan tidak akan terpenuhi.
Untuk itu ada baiknya dalam menjalankan taxinya supir taxi itu menerapkan etika pribadi dengan bersikap sopan kepada penumpang dan memberi harga dengan sewajarnya. Hal ini akan menimbulkan efek berturut-turt bagi si supir taxi, yaitu pendapat akan meningkat dan tercapainya target. Efek bagi penumpang, penumpang akan merasa nyaman menaiki taxinya dan untuk kedepannya akan percaya dan terus menggunakan jasa taxi tersebut, bahkan bagi perusahaan tempat supir taxi ini bernaung akan menimbulkan efek yang sangat besar seperti menonjolkan image perusahaan yang dapat dipercaya masyarakat dan sudah pasti masyarakta memilih untuk menggunakan perusahaan taxi tersebut dari pada taxi lain.
Dari hasil penjabaran diatas terbukti kalau anggapan bahwa etika bertolak belakang dengan tujuan bisnis adalah keliru karena dengan menjalankan etika dengan benar justru akan menunjang jalannya bisnis.
Salah satu tolak ukur yang bisa kita jadikan pedoman dalam mengukur sejauh mana kita telah mampu menjalankan etika dengan benar yaitu dengan menanyakan pada hati nurani kita ”Bayangkanlah bagaimana jadinya dunia ini jika semua orang di dunia ini mempunyai etika seperti saya ?”
Hubungan etika dengan jabatan CIO
Saat ini adalah kelas angkatan pertama CIO, disinilah ditentukan apakah jabatan CIO ini memberi dampak yang baik dan terhormat bagi jabatan CIO atau tidak. Untuk itu penting sekali diterapkan etika bagi para mahasiwa angkatan pertama ini. Hal ini kemudian akan membentuk image bagi jabatan CIO selanjutnya dalam masyarakaat.
Referensi
[1] Kuliah Pak Armien Z Langi
[2] http://pohonkatakata.blogspot.com/2007/07/five-minds-for-future.html
Entry Filed under: Etika TI. Tag: Armien Z Langi, Creative Mind, Disiplin Mind, Ethical Mind, Five Minds for the future, Garner, jabatan CIO, Respectful Mind, Sintesisin Mind.
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed